Malaikat Tomboy

Pukul delapan lewat sepuluh menit aku sampai di rumah. Aku tak langsung masuk, aku melepas sepatu dan tutuk di bangku yang terbuat dari bambu di teras rumah. Memandang jauh ke arah rasi bintang scorpio yang terlihat sangat terang malam ini. Yang terlintas di kepalaku saat itu adalah, itu bintang? Atau jangan-jangan cuma batu akik. Membayangkan itu aku jadi tersenyum sendiri.

Segala kekacauan yang terjadi hari ini rasanya seketika menguap dari seluruh tubuhku. Ya, hari ini memang penuh dengan kekacauan. Kekacauan komunikasi, pekerjaan, isi kepala yang berantakan dan hati yang berserakan. Rasanya semuanya menumpuk dan membuat badan ingin pecah.

“Woi!” Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. Suara yang sangat kukenal. Mela, sepupuku yang rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Ah, ganggu aja lu, Mel. Lagi asik-asik ngelamun, malah ngagetin,” gerutuku pada Mela.

“Lagian ngelamun jam segini. Mikirin apa lu? Jangan-jangan habis nonton bokep lu, ya? Terus ngebayangin yang erotis-erotis.”

“Bokep gundulmu. Anak rohis begini lu tuduh nonton bokep.”

“Yaelah sewot amat. Iya, lu mah kelewat alim. Liat pantat ayam aja tutup muka terus beliin baju gamis.”

Mendengar itu kami berdua tertawa terbahak-bahak. Mela memang begitu. Ia sedikit tomboy. Nggak sedikit juga sih. Kelewat malah. Mungkin karena lingkungan yang membentuk dia seperti itu. Dia mempunyai 4 kakak dan semuanya laki-laki. Itulah yang membuatnya berbicara ceplas-ceplos dan apa adanya. Tapi meskipun tomboy begitu, dia mempunyai sisi wanita yang lebih wanita dari manapun. Ibu-able lah pokoknya.

“Kenapa lu, Nyet?” Tanyanya sambil duduk di sampingku.

“Gue jatuh cinta.” Aku menjawab sambil terus menatap bintang-bintang di depan pandanganku.

“Hahaha… Lu jatuh cinta? Hahaha.”

“Ah sambel cocol, ngeledek mulu.”

“Yeee.. ikan bilih sewot.. hahaha. Udah gue bilang dari dulu, Lu mah nggak bakat cinta-cintaan, Nyet.”

“Bodo.”

“Coba deh Lu ingat-ingat. Cinta pertama lu, yang waktu Ujian Nasional SD waktu itu. Siapa itu namanya? Yang anaknya manis rambutnya dikuncir itu? Markisa? Siapa sih?”

“Melisa”

“Nah iya yang itu. Eh, bener kan rambutnya diikat kayak ekor kuda? Rumahnya di jalan kayu jati bukan?”

“Itu lagu.”

“Oh iya, maaf. Lu nggak pernah sempat nyatain perasaan lu kan?”

“Itu sih cuma cinta monyet.”

“Lu kan monyet. Nah, terus waktu MTs, sama Rina. Jatuh cinta dan pas pula duduk meja lu sebelahan. Pakai modus pinjam-pinjam penggaris… Hahaha”

“Hahaha… hanjir. Lu ingat aja yang begituan.”

“Ingatlah. Dan itu kan cinta yang paling lama lu pendam. Gile aje mendam cinta ampe tujuh tahun. Kalau durian, tujuh tahun, dari buahnya jatuh udah tumbuh lagi batang durian baru.”

“Hahaha…”

“Etapi, gue salut ama lu, Nyet. Lu bisa menahan dan menjaga perasaan lu sampai selama itu. Padahal setelah tamat kalian pisah SMA, dan dia sempat menjalin hubungan dengan cowok lain. Tapi lu tetap bertahan dan akhirnya lu nyatain. Walau akhirnya lu nggak minta jawaban apapun. Dan Menurut gue ya, Nyet. Itu adalah keputusan terbodoh lu. Kenapa lu nggak minta jawaban?”

“Nggak tahu. Gue ngerasa memang seharusnya begitu.”

“Etapi lu sempat ngasih sesuatu kan?”

“Iya, gue beli semacam gantungan kunci gitu. Berbentuk hati dan orang berciuman. Bisa terpisah dua. Satu ada nama dia. Satu ada nama gue. Gue kasih ke dia satu malam itu. Gue minta dia simpan.”

“Dan yang lu simpan, sekarang masih ada?”

“Ilang waktu main futsal. Hehehe”

“Hahahaha… goblok! Pake ketawa lagi.”

“Hahaha.. ya habis gimana? Udah hilang pun.”

“Terus setelah dengan Rina jatuh cinta sama siapa lagi?”

“Ani.”

“SBY?”

“Kimia.”

“Oh iya. Itu salah dimana?”

“Baik Rina dan Ani, salahnya sebenarnya sama. Gue sebenarnya terlalu cuek. Awal-awal rajin kontak, kirim sms, telepon. Habis itu gue sibuk. Akhirnya ya terabaikan dan mereka lebih memilih yang lebih perhatian. Padahal gue sama sekali tak bermaksud mengabaikan mereka. Hanya cara komunikasi gue aja yang buruk.”

“Hmmm.. Terus yang lu pikirkan sekarang ada hubungannya dengan itu?”

“Lu emang sepupu paling tahu isi kepala gue.” Mela kemudian nyengir. Kayak kuda. “Sedikit banyaknya itu berpengaruh pada keadaan gue sekarang. Di satu sisi gue nggak ingin dia terabaikan, kayak yang sudah-sudah. Dan beberapa kali hampir itu terjadi. Tapi di satu sisi kalau terlalu intens berkomunikasi gue takutnya malah annoying. Gitu. Dan semua rencana yang gue susun malah sebaliknya.”

“Hmmmm,” Mela mengetuk-ngetukkan jai telunjuknya ke dagunya. “Tapi seserius apa perasaan Lu sama dia?”

“Seserius apa? Gue udah sampai pada tahap memikirkan untuk mendapatkan penghasilan lebih agar bisa menikah dengan dia secara baik. Seserius itu.”

“Kalau begitu, Lu harus perjuangkan.”

“Caranya?”

“Yaelah pake nanya. Gundul!”

“Habis gue bingung. Gue bukan orang yang ahli dalam cinta-cintaan. Kan lu tahu sendiri.”

“Katanya serius? Katanya sungguh-sungguh?”

“Gue serius.”

“Kapan, lu samperin?”

“Harusnya besok. Tapi kayaknya nggak jadi karena mungkin besok dia mau pergi. Beberapa hari ke depan mungkin.”

“Segerakan. Etapi soal penghasilan tadi gimana?”

“Mudah-mudahan segera ada jalannya. Doain ajalah.”

“Amin. Tapi gue soal rejeki gue salut sama lu. Dari sejak kecil kayaknya lu selalu berusaha mendapatkan apa yang lu ingin tanpa meminta. Sepeda pertama lu. Terus handphone sudah berapa?”

“Udah lima kayaknya.”

“Kuliah juga gitu kan?”

“Begitulah. Gue males aja minta ke mereka untuk hal-hal yang menyangkut kesenangan gue. Barang-barang yang gue ingin. Lebaran mana pernah gue minta baju. Seingat gue sejak kuliah yang dibeliin benar-benar itu cuma laptop. Uang saku bisa gue amankan dari hal-hal lain.”

“Good boy. Tapi gue nggak ngerti sikap lu yang begitu. Semacam terlalu keras sama diri sendiri.”

“Bodo ah. Gue kan nggak minta dimengerti.”

“Hahaha.. dasar, gadabah.”

“Hahaha.. cancorang lu.”

“Eh, Mel, tadi waktu gue ngelamun ayam di rumah lu mati nggak?”

“Mati. Udah gue goreng.”

“Balado?”

“Balado.”

“Biasa, anter satu ke sini ya. Gue nggak selera makan nih. Itu nasi goreng gue beli cuma bisa satu sendok.”

“Baiklah kerambil cukil. Tunggu bentar.”

“Hahaha… dasar kerak kuali.”

Sepuluh menit kemudian Mela datang membawakan sepiring ayam goreng balado. Dan selain itu dia sudah dandan, sudah rapi.

“Rapi amat, mau kemana?”

“Mau malam minggu lah. Emang lu. Mblo.”

“Hahaha.. kerambil. Thanks yak, ayamnya.”

“Okeh. Gue berangkat dulu. Eh, ingat pesan gue tadi. Perjuangkan. Merdeka! Assalamu’alaikum.”

“Hahaha.. iya. Wa’alaikum salam.”

Semua kekacauan hari ini sepertinya sedikit terselamatkan oleh malaikat tomboy barusan. Lumayanlah, sudah tidak terlalu berantakan. Bentar, makan ayam goreng balado dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s