[Review] Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi – Aan Mansyur

Membaca buku Aan Mansyur yang satu ini seperti minum kopi pahit di pagi hari. Sesekali diselingi dengan cemilan kue-kue yang rasanya manis. Seperti itulah kira-kira saya menggambarkan buku “Lelaki Yang Terakhir Menangis di Bumi.”

Buku ini bercerita tentang tokoh utama bernama Jiwa, dengan alur mundur. Dengan alur seperti itu, Jiwa berusaha mengajak kita sebagai pembaca untuk kembali melihat masa lalunya, bersama orang-orang yang pernah menjadi bagian hidupnya, menjadi cintanya.

Membaca buku ini, saya merasa sedang bercerita dengan Jiwa, pada sebuah meja dan kami saling berhadapan. Jiwa seperti bercerita dan saya seperti menjadi pendengar yang baik.

Buku ini benar-benar manis karena bahasanya yang puitis. Mungkin karena Aan Mansyur memang rajin menulis puisi. Selain itu ada banyak kalimat dan kata-kata yang bisa menjadi quote-quote keren. Cuma satu yang agak mengganggu adalah footnote yang ditambahkan oleh Nanti dalam buku ini. Saya mengabaikan bagian ini dan membacanya lagi setelah membaca keseluruhan cerita Jiwa.

Nggak ada lagi yang bisa saya ungkapkan mengenai buku ini selain kata ‘Keren’. Bahkan saya ingin membacanya berpuluh-puluh kali lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s