maukah kau kembali tertawa bersamaku?

Di suatu waktu, kita berada dalam keadaan asing. Satu sama lain. Kita berada di dua tempat. Kau diujung, dan aku diujung satunya. Kau tak pernah melihatku, berbicara denganku. Aku pun begitu.

Tangan Tuhan kemudian memainkan perannya. Kita digerakkan seperti dua bidak catur yang kemudian saling berhadapan. Aku malu. Kamu diam. Aku segan. Kamu Diam.

Aku kemudian memecahkan sunyi. Kita tak lagi diam. Diam sudah remuk. Aku kemudian menjahit tawa, memberikannya padamu untuk bekal musim hujan yang dingin. Aku juga menulis mimpi-mimpi untuk teman tidurmu sepanjang malam. Dan sebagai gantinya, kau menghidangkan harap. Aku meminumnya.

Aku masih ingat, di suatu pagi yang dingin, aku berlari-lari dikejar waktu. Aku berlari, berpacu dengan perpisahan, tak ingin didahului. Lalu semua hanya mimpi. Mimpi katamu. Dan kita tertawa, kau tertawa, aku menertawakan diriku sendiri. Aku simpan tawa itu hingga kini, di sebuah ruangan di dalam kepalaku dimana ada dirimu.

Jika kau merasa sepi, katakan padaku. Biar kupeluk dengan doa-doa. Jika kau merasa sedih, tumpahkan semuanya, biar aku jadi gelas bagi air matamu.

Jadi, maukah kau kembali tertawa bersamaku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s