Kereta Terakhir

Aku menaiki kereta api paling sore dari kampung kecilku di Pariaman menuju Kota Padang, seperti biasanya. Dan tak seperti biasanya, kali ini aku mendapatkan tempat duduk, beruntungnya lagi di dekat jendela. Kalian tau, tempat duduk di dekat jendela adalah favoritku, karena di sana aku bisa melamun sambil mendengarkan musik favorit.

Aku duduk di kursiku, mengeluarkan smartphone dan membuka aplikasi musik. Aku memilih memutar lagu-lagunya Adhitya Sofyan, satu album, lalu memejamkan mata.

Selang entah berapa lama, mungkin sekitar 10 menit tiba-tiba ada yang menepuk-nepuk bahuku. Aku melepas headset dan membuka mata. Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu berdiri menghadapku.

“Uda, boleh minta tolong pindahin tas saya ke atas?”

Aku masih bengong. Super cantik.

“Uda.. halo.”

“Ah… ya… oke.”

Aku pun membantunya mengangkat tasnya yang super besar dan berat. “Kamu membawa planet di dalam tas ini?”

“Emmm.. maaf memang agak berat,” jawabnya dengan wajah merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok. Kamu duduk dimana?”

“Kayaknya di situ,” katanya sambil menunjuk tempat duduk yang masih kosong. Dan itu tepat di depanku.

Aku mempersilahkannya duduk. Dan aku duduk tepat di depannya. Dan dari depan dia makin cantik. Tuhan, semoga ini benar-benar bidadari.

“Uda, mmm… makasih ya udah bantuin. Maaf kalau tasnya agak berat,” katanya memulai percakapan.

“Bukan agak sih, tapi sangat. Tapi nggak apa-apa sih. Nggak masalah kok. Oiya, kamu mau saya panggil…”

“Apakah sebuah nama itu penting?”

“Buat saya penting, karena nggak semua orang mau dipanggil sayang. Apalagi pacar orang.”

“Hahaha.. Uda lucu.”

“Thanks, tapi saya bukan pelawak atau komedian.”

“Hahaha… lucu kan nggak harus pelawak atau komedian.”

“Iya sih, saya pernah menemui beberapa wanita yang lucu tapi justru membuat saya sedih.”

“Uda, curhat? hahaha.”

“Hahaha.. ya nggak. Cuma obrolan untuk mencairkan suasana. Oiya Kamu-Yang-Belum-Mau-Kenalan turun dimana?”

“Hahaha.. sebentar lagi. Stasiun Duku.”

“Kalau begitu sebelum kamu turun kamu kayaknya harus mengisi kuisioner dari saya.”

“Kuisioner?”

“Ya kuisioner.”

Saya menyodorkan handphone kepada wanita cantik berambut sebahu tersebut. Tentu saja sebuah kontak baru kosong sudah terbuka dan siap dia isi.

Melihat itu dia senyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala. Selesai dia mengisinya aku menyimpan handphone-ku tanpa melihatnya, kemudian membantunya membawa tas berisi planet tadi sampai turun kereta.

“Hati-hati kamu-yang-belum-mau-kenalan. Jaga planetnya jangan sampai pecah,” kataku sambil menunjuk ke arah tasnya.

“Hahaha.. thanks Uda sudah membantu. Jangan lupa cek kuisionernya.”

Aku hanya tersenyum. Kereta pun melanjutkan perjalanan. Sore pun sudah berganti senja. Di stasiun berikutnya akupun akan turun. Sambil menunggu aku melihat kontak yang baru diisi oleh gadis berambut sebahu tadi. Dia menulis namanya dengan ‘Call Me at 9PM’.

Aku tersenyum.

Advertisements

4 thoughts on “Kereta Terakhir

  1. cerpennya bagus,jadi ngebayangin senyum si “Uda” ketika melihat nama contact di handphonenya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s