Nyala Semangat Anak-Anak Sungai Nyalo

Nyala Semangat Anak-Anak Sungai Nyalo

Sungai Nyalo urang mamukek
kanai maco jo ambu ambu
Nak basuo yo indak ka dapek
Baok lalok di mimpi kok lai batamu

Suara ceria Bang Denis, Uni Ade dan Bang Nadir mengawali perjalanan kami dengan kapan dari dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Carocok di Tarusan, Pesisir Selatan.

Kapal kami membelah perairan Kawasan Wisata Terpadu Mandeh pagi itu. Dua belas orang yang termasuk juru mudi kapal sibuk dengan aktivitas masing-masing kecuali Bang Denis, Uni Ade dan Bang Nadir yang sibuk menyanyi lagu Ratok Denai Dalam Hati dari Elly Kasim.

Kami menuju sungai nyalo, tempat yang disebut dalam lirik lagu Elly Kasim tersebut.

***

Flasback ke momen sebelumnya di minggu pagi awal oktober gue nyaris ketiduran. Janji berangkat jam 7 tapi gue baru bangun jam 06.50 karena semalam tidur larut untuk menyelesaikan beberapa tulisan untuk infosumbar.

Dengan tergesa-gesa gue lantai 1 kantor (karena tidur di kantor) untuk cek hape. Benar saja sudah ada satu panggilan tak terjawab dari uni Ade. Gue telepon balik tapi ternyata tak diangkat.

Setelah mandi gue telepon lagi. Dan ternyataaaa…. Uni Ade juga telat bangun.. jiahaha. Setengah jam kemudian dia baru sampai di kantor, kami pun bersiap berangkat menuju Pesisir Selatan.

***

Angin laut menyalami kami sepanjang perjalanan, gelombang yang tenang ikut mengantar kami. Gue benar-benar menikmati perjalanan pagi itu, meskipun sempat khawatir dengan gelombang laut karena beberapa kali di perjalan hujan turun dan langit begitu gelap.

Tapi, seolah hari itu semesta merestui perjalanan kami. Perlahan cuaca pun berubah cerah.

Limabelas menit perjalanan dengan kapal dari TPI Carocok akhirnya kapi sampai di Sungai Nyalo. Sebuah kampung kecil yang jauh dari hingar bingar kota.

Menjelang sampai di daratan saya dan Bang Denis harus turun untuk menarik kapal ke tepian. Karena pada saat pagi hari area perairan di Sungai Nyalo ini surut dan sangat dangkal sehingga kapal harus ditarik.

Sampai di darat kami pun disambut oleh anak-anak Sungai Nyalo. Dan gue langsung ngilang… melipir ke toilet. Kebelet cuuuuy.. udah nahan sejak di dermaga TPI Carocok.

***

“Ei bi si di i ef ji ke el em en o pi!”

A video posted by SUMBAR (@infosumbar) on Oct 5, 2016 at 12:44am PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Suara nyaring anak-anak membelah keindahan Sungai Nyalo siang itu. Mereka begitu bersemangat belajar bahasa inggris, mengeja satu persatu huruf abjad.

Nanda, Bang Nadir, Uni Ade dan Bang Denis bergantian mengajar mereka bahasa inggris sederhana. Momen paling menarik ketika Yusuf, salah seorang anak Sungai Nyalo maju ke depan bercerita tentang Sungai Nyalo. Awesome! Yusuf melakukannya dengan baik.

Yusuf adalah salah satu anak Sungai Nyalo yang cukup menonjol diantara teman-temannya. Di sekolah ia selalu ranking satu dan menjadi idola bagi teman-temannya.

Momen menarik adalah saat mereka diberi tugas mewarnai. Anak-anak tersebut kami bagi dalam kelompok. Saat pembagian kelompok inilah Yusuf menjadi rebutan teman-temannya. Ia bahkan ditarik-tarik oleh teman-temannya agar masuk kelompok mereka.

img-20161002-wa0030
Anak-Anak Sungai Nyalo menikmati proses mewarnai

Seperti anak-anak Sungai Nyalo lainnya Yusuf juga hidup dalam keterbatasan. Lebih sedih lagi Yusuf juga ditinggal pergi begitu saja oleh ayahnya. Ia kini menjadi tumpuan harapan bagi keluarganya dengan dua orang adik.

Menurut cerita Uni Ade, begitulah kehidupan di Sungai Nyalo. Susahnya akses keluar membuat mereka jauh dari kehidupan kota. Jalan satu-satunya bagi penduduk Sungai Nyalo adalah dengan kapal menuju dermaga TPI Carocok. Sementara jalan baru dibangun oleh pemerintah dan masih jauh dari kata selesai.

Selesai mewarnai | Foto: dedet
Selesai mewarnai | Foto: dedet

Di Sungai Nyalo sendiri ada 100 lebih kepala keluarga. Karena susahnya akses keluar mereka pun menikah hanya dengan orang-orang di Sungai Nyalo saja. Selain itu tingkat pendidikan yang rendah juga membuat penduduk Sungai Nyalo terutama wanita menikah di usia muda.

Hari itu gue benar-benar menikmati hari minggu. Hari Minggu yang benar-benar berkualitas. Bisa berbagi bersama anak-anak Sungai Nyalo. Bisa bermain, belajar dan makan bersama mereka.

sebelum makan bersama | Foto: Dedet
sebelum makan bersama | Foto: Dedet

Melihat mereka belajar dengan semangat, bertengkar berebut kertas hingga lem. Melihat kepolosan dari anak-anak tersebut benar-benar menyenangkan. Tertawa hingga tangis mereka benar-benar tulus.

Momen paling menyentuh adalah saat anak-anak Sungai Nyalo berpisah dengan guru les bahasa inggris mereka yaitu Kak Fani dan Kak Rahma yang telah mengajar mereka selama 7 bulan. Sedih lah pokoknya pada nangis berjamaah.

A video posted by SUMBAR (@infosumbar) on Oct 3, 2016 at 9:43pm PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Hari itu selain berlajar dan bermain bersama kami juga membagikan sepatu yang sebelumnya dibawa Uni Ade dari padang. Ada sebanyak 50 pasang sepatu untuk mereka. Selain itu juga ada buku cerita untuk usia di bawah 9 tahun.

Terima Kasih untuk Uni Ade atas ajakannya ke sini. Gue dapat pelajaran banyak dari perjalanan kali ini. Belajar untuk berbagi dan bersyukur lebih banyak.

Dan untuk anak-anak Sungai Nyalo, Yusuf, Ado, Aldi, Lusi dan yang lainnya, tetap semangat mengejar cita-cita kalian. Gapai mimpi-mimpi kalian, suatu saat kalian akan jadi orang-orang hebat!

img-20161002-wa0036
Foto bersama sebelum kami pulang

Sampai jumpa, semoga kita bisa bermain bersama lagi.

Advertisements

3 thoughts on “Nyala Semangat Anak-Anak Sungai Nyalo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s