Post Pertama 2017

Tadinya sih pengen ngeblog. Buka dashboard senjak 23.30 wib, kemudian bengong, buka youtube. Malam nontonin Paguyuban Pamitnya Meeting Episode 6 selama hampir satu jam. Kemudian dilanjutkan bengong.

Lagian gue juga nggak tau sih pengen ngepost apa? Belakangan gue justru lagi mengalami kegelisahan mengenai banyak hal. Terutama apa yang terjadi belakangan ini di media sosial. Nggak tau sih, gue kepikiran aja dan menjadi sesuatu yang gue khawatirkan.

Nggak biasanya sih kayak gini, bahkan kekhawatiran ini beberapa kali berujung pada rencana gue untuk menutup beberapa akun media sosial gue, terutama facebook dan instagram. I don’t know why.

Menurut gue saat ini semakin hari pengguna media sosial di Indonesia itu semakin sakit. Sakit secara psikologis. Dan dampaknya nggak cuma sebatas media sosial tapi mulai berimbas pada dunia nyatanya si pengguna.

Media sosial hari ini bukan menjadi suatu tempat yang mengasyikan lagi. Nggak kayak dulu. Semuanya jauh berubah. Gue ngeliat media sosial hari ini sudah seperti penyakit. Ada beberapa penyakit yang menurut gue ini bersangkut paut dengan penyakit psikologis dan menjadi masalah sosial kita hari ini.

Pertama kecendrungan orang-orang yang selalu ingin seperti orang lain di media sosial. Orang makan di tempat A, pengen juga makan di tempat A. Orang foto di tempat B, pengen juga di tempat B. Dan sekarang tingkatan ini udah nggak normal. Udah memasuki level dimana si orangnya ini nggak pengen ketinggalan dari orang lain. Istilahnya pengen hits.

Sekarang banyak orang terutama remaja pengguna instagram mereka sudah tidak berpikir logis lagi untuk mendapatkan sebuah foto yang bagus. Bahkan mereka nggak peduli apakah tempat itu berbahaya dan mengancam nyawa mereka. Dan sebuah kasus baru saja terjadi.

Media sosial ternyata tidak memperbaiki kehidupan sosial kita, justru memperparah. Path misalnya lebih ke ajang untuk pamer lagi dimana, makan apa. Yaaah… pada akhirnya ya begitulah kehidupan remaja kita, lebih ke sukanya bersenang-senang. Wajar rasanya negara lain jauh lebih maju dan anak mudanya jauh lebih visioner.

Tapi ya intinya gue mencemaskan sih kehidupan di media sosial, belum lagi masalah agama di sana yang dimana dipenuhi oleh orang-orang yang tahunya sedikit. Kalian tau bedanya orang yang taunya sedikit dan tau banyak. Mereka yang taunya sedikit ini lebih reaktif, lebih cepat untuk berkomentar terhadap apapun. Orang yang tau banyak biasanya lebih memilih untuk diam dan berkomentar sebatas apa yang mereka tau.

Terus yang membuat gue sedih juga banyak yang udah lupa dengan daerahnya sendiri. Ya di media sosial udah banyak yang nggak peduli daerahnya, mereka lebih peduli tentang Jakarta. Jakarta, Jakarta dan Jakarta. Padahal tuh di sini juga banyak masalah, kemiskinan, pendidikan, kasus kekerasan terhadap wanita yang meningkat. Banyak. Tapi setiap hari ngomongin Jakarta.

Yaaah capek mah kalo diomongin. Gue cuma ngeluarin unek-unek aja sih. Gitulah pokoknya.

Makasih banyak banget yang udah baca ini sampai habis. Doain aja gue bisa ngasih postingan yang lebih bermanfaat buat yang main ke blog ini.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s