Generasi Kebelet Nikah

Suatu kali gue diajakin sama Uda Rian ke Gramedia Padang. Karena udah lama nggak main ke sana ya gue ikut, tentu saja dengan meninggalkan dompet di kantor. Biar nggak khilaf. Soalnya kalau ke toko buku kadang suka nggak tahan.

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian gue waktu itu di Gramedia. Yaitu banyaknya buku-buku soal nikah. Buku soal nikah ya, bukan buku nikah. Beda loh ini :))

Buku-buku soal nikah ini bukan buku-buku yang berat gitu, bukan untuk orang dewasa dengan gaya penyampaian yang serius. Tapi buku-buku ini segmen pembacanya remaja. Ya, bahas-bahas nikah muda gitu lah. Dan itu beragam banget, mulai dari yang pop banget sampai yang islami.

Gue dalam batin…. “Ah anjir segini banget ya generasi jaman sekarang itu kebelet nikah.”

Gini, banyaknya buku-buku demikian itu berarti menunjukkan segmen di pasar ini gede loh. Artinya banyak remaja yang ingin menikah, kalau nggak, ya nggak mungkin buku dengan tema itu makin banyak gitu.

Dulu, waktu SMA sampai kuliah itu bahasan paling annoying tu pacaran. Seolah tu ya, kalau lu nggak punya pacar lu nista banget. Jadi jomblo tu aib gitu. Lo kayak semacam minoritas tau nggak sih.

Dan sekarang kayaknya ganti dengan menikah gitu. Nggak cuma di toko buku sih, tapi juga hampir di media sosial. Seolah tuh sekarang tujuan kita semata-mata di dunia ini tu cuma buat menikah.

Dan kebanyakan mereka ini adalah remaja di usia 20 tahun ke bawah yang menurut gue itu cara berpikirnya aja belum matang gitu. Hidup masih sebatas buat senang-senang, yang kalau mereka ketinggalan berfoto di tempat baru di instagram mereka langsung galau. Berasa nggak jadi anak hits.

Menurut gue ada beberapa faktor yang membuat remaja-remaja sekarang tu jadi kebelet soal nikah. Pertama itu faktor Media Sosial. Gue kan ngadmin nih di salah satu akun publik. Itu kalau di instagram kadang gue suka cek tab explore. Dan di situ aduh parah banget. Bisa gue bilang nggak ada yang tau nilai sebuah privasi.

Gue kalau ngeliat explore gitu, suka sedih gitu. Ternyata peningkatan kecepatan internet dan semakin gampangnya akses informasi dengan media sosial, nggak membuat masyarakat kita menjadi semakin pintar gitu.

Suka sedih ngeliat remaja yang nggak tau apa itu makna privasi. Ya, sih foto digembok, tapi kalau upload foto itu foto ciuman, pelukan di kamar, hal-hal yang sifatnya sangat pribadi.

Seolah-olah sekarang itu kebahagian itu harus diumbar gitu. Dan kebahagiaan yang mereka upload itu semu padahal. Upload foto ciuman, dicium sama pacarnya, akunnya digembok, tapi fotonya ditag ke semua akun-akun gede.

Kadang nggak cuma remaja sih, tapi juga pasangan-pasangan muda yang baru menikah. Lo duduk dipangku gitu ama pasangan lu, tapi itu diupload dan dikonsumsi publik. Sebegitunya kah bahagia perlu diupload dan mendapat pengakuan dari orang banyak.

Nah, balik ke faktor media sosial ini. Gue rasa banyak yang melakukan tindakan-tindakan yang gue sebutkan tadi karena faktor ini tu tren di media sosial. Itu tuh sok-sok an ngomongin Relationship Goals, yang kebanyakan sok taunya dari pada taunya.

Di satu sisi faktor lain menurut gue adalah hilangnya peran orang tua dalam memberikan informasi mengenai hubungan kepada anaknya. Memasuki usia remaja dan anak udah mulai mengenal pacaran dan lain-lain harusnya menurut gue perlu ada bimbingan dari orang tua.

Perlu pencerahan gimana sih menjalani sebuah hubungan, apa yang perlu dijaga, di tahap pacaran sebatas mana hubungan itu (ya kalau pacaran), terus mulai memperkenalkan kepada si anak apa itu pernikahan, apa maknanya bagi hidup dia, apa yang akan dia hadapi. Ya, gitu-gitu lah.

Mirisnya hal ini sebenarnya ada, tapi cuma beberapa jam. Kapan? Pada saat pengurusan administrasi pernikahan di KUA. Kedua calon pengantin mendapat kuliah nikah. Beberapa jam. Ya nggak cukuplah, karena aspek pernikahan itu luas banget dan akan dijalani di sepanjang sisa hidup.

Intinya menikah itu nggak segampang ambil foto terus upload ke instagram lah.

Gue percaya, apapun yang akan kita lakukan dalam hidup ini, apapun yang akan kita jalani kita perlu belajar dulu. Ngelakuin sesuatu harus ada ilmunya.

Nikahnya sih nggak salah, tapi kalau udah kebelet banget pengen nikah, relationship goals bla bla apalah menurut gue itu psikologisnya sih yang salah.

Lakukanlah sesuatu itu murni dari kehendak lu dan lu ngelakuin secara sadar. Bukan karena pengen seperti orang lain atau dorongan dari teman dan hal-hal yang datangnya bukan dari diri lu.

Itu aja sih pesan gue untuk kalian yang remaja-remaja di bawah 25 tahun yang kebelet kawin. Nikah tu bukan satu-satunya tujuan hidup. Fase menikah merupakan satu fase paling penting dalam hidup manusia, pastikan kalian melaluinya dengan kesiapan lahir dan batin serta ilmu yang cukup.

Terlepas dari itu tulisan ini hanya pandangan gue dan apa yang gue lihat serta rasakan di lingkungan sekitar. Ada yang ngerasain hal yang sama nggak sih?

Advertisements

6 thoughts on “Generasi Kebelet Nikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s