Author: superemen

Nggak Usah Dibaca

Taik emang…. Pernah nggak sih kalian merasakan berada pada satu titik dimana kalian mempunyai banyak ide, dan pada akhirnya berujung pada kegagalan. Kegagalan ini bukan karena ide ini udah dieksekusi, tapi karena nggak pernah dieksekusi. Taik nggak sih?

Taik banget men. Gue sih mending sebuah rencana jadi gagal gitu karena gue udah mencoba daripada rencana-rencana yang gagal tapi karena nggak pernah dieksekusi sama sekali. Rasanya tu nggak enak. Beneran.

Gue udah dua minggu ini jadi semacam uring-uringan gitu, males ngapa-ngapain. Kadang ada satu hari dimana gue lebih memilih tidur seharian. Sebelas dua belas kayak pertama kali rasanya patah hati. Rasanya pengen bilang taik aja gitu.

Gue pada awalnya nggak tau sih kenapa gue jadi uring-uringan. Terus setelah merenung dan cerita ke salah seorang teman dekat dia bilang, lu kayaknya lagi kesal karena ide-ide lu nggak jalan.

Gue pikir, ah taik bener nih. Kalau gue hitung-hitung ada banyak hal yang pengen gue kerjain tapi akhirnya gagal. Dan seperti gue bilang karena gue nggak pernah eksekusi. Tapi ini masalahnya adalah karena eksekusi ini bergantung pada situasi orang lain. Ini sih yang sebenarnya membuat nggak enak.

Gue benar-benar berpikir bahwa ternyata memang benar sangat tidak enak jika menggantungkan sesuatu pada manusia. Di tangan manusia harapan lebih sering dihancurkan daripada dibuat menjadi kenyataan. Mungkin Allah juga ingin memperlihatkan bahwa berharap pada selain Dia itu sia-sia.

Belakangan ini gue jadi punya banyak waktu untuk berpikir dan merenung. Banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari kejadian beberapa hari ini.

Pertama, gue semakin terbiasa untuk tidak terlalu berharap atau bergantung pada orang lain. Walau kenyatannya kita makhluk sosial, selagi kita bisa lakukan sendiri sebaiknya kita lakukan sendiri atau jika pun harus bergantung pada orang lain gantungkanlah pada orang yang tepat. Mencari orang yang se-visi dan mempunyai padangan serta nilai yang sama dengan yang kita pegang memang susah.

Sama halnya dengan gue pasti kalian pernah bertemu orang-orang yang gampang banget setuju, gampang bilang iya tapi pada akhirnya dari tindakan dia sama sekali nggak mencerminkan itu. Orang-orang seperti ini mendongkol bukan dalam hati, tapi dalam tindakannya.

Kedua, sekarang ketika gue punya suatu ide gue nggak sembarangan lagi mengutarakannya kepada orang lain. Gue akan memilah dan memilih kepada orang yang tepat. Gue nggak mau lagi semuanya menjadi sekedar wacana dan menjadi taik yang kemudian nggak ada artinya. Bahkan taik pun masih berarti jika diolah.

Ketiga, berkat kejadian ini gue semakin berpikir untuk memilih dengan siapa gue bisa berkolaborasi. Berkolaborasi bukan saja bergerak bersama-sama, tapi menurut gue harus ada kesamaan visi dan pandangan. Kalau nggak ya sama, di tengah jalan bisa berujung jadi taik doang.

Keempat, sebenarnya hikmah terbesar dari ini semua adalah gue bisa kembali fokus dengan apa yang sejauh ini bisa gue kerjakan sendiri. Jika ada hal-hal lain yang kemudian melibatkan hal-hal lain mungkin akan jadi pekerjaan jangka panjang dan gue nggak berharap banyak. Karena sekali lagi berharap pada orang lain bisa menjadi menyakitkan.

Itu saja untuk update kali ini. Semoga ada hikmah yang bisa kalian petik dari postingan curhat ini. Postingan ini sekedar pengisi waktu luang gue dalam mengerjakan beberapa pekerjaan.

Advertisements
Random Podcast #2

Random Podcast #2

Yeaaah…. akhirnya gue sampai pada tahap ini dan bisa melahirkan Podcast kedua. Nyaris saja semua ini berujung wacana, tapi dengan tekad yang luar biasa dan perenungan yang panjang akhirnya misi ini selesai.

Setelah di Random Podcast #1 gue cuma perkenalan diri doang dan menjelaskan kenapa gue ikut bikin podcast, di edisi kedua ini gue membahas tentang fenomena-fenomena di media sosial saat ini.

Gue kira sih awalnya materi ini bahasannya sedikit, eh ternyata nggak cukup sejam kayaknya. Tapi karena udah terlalu panjang gue batesin aja di kisaran 50 menit.

Oke nggak usah panjang lebar, langsung saja didengarkan. Seperti biasa ada youtube dan versi Mp3 yang gue sediakan linknya di bawah.

Oiya satu lagi jangan lupa untuk memberikan feedback. Gue akan sangat berterima kasih jika kalian yang membaca blog ini dan mendengarkan Podcast gue walau sebentar mau mengirimkan feedback, apakah ke email atau komen langsung di youtubenya.

Versi MP3 Download di sini.

Pertama Kalinya Nonton Teater

Di sini ada yang pernah nonton teater nggak sih?

Dari dulu yang ada di pikiran gue tentang teater adalah “kayaknya membosankan deh”, jujur aja. Dan semua itu akhirnya terbantahkan saat gue malam minggu kemarin nonton pertunjukkan Teater Tanah Ombak di Teater Utama Taman Budaya Sumbar.

Aduh gila men. Ternyata nonton teater tuh enak ternyata, selain gue senang gue juga malah pengen main teater… haha.

Jadi sedikit cerita, pada awalnya gue memang sudah lama mengikuti perkembangan anak-anak Tanah Ombak. Jadi mereka ini adalah anak-anak kawasan Purus yang berada di dekat Pantai Padang. Gambaran orang terhadap anak-anak Purus ini dari dulu bahkan sampai sekarang itu negatif.

Kemudian om Yusrizal KW atau kami akrab menyapanya dengan Om KW melakukan literasi terhadap anak-anak ini, khususnya yang berada di kawasan Tanah Ombak. Didirikanlah rumah belajar, perpustakaan tempat anak-anak ini kemudian bermain dan belajar bersama.

Akhirnya anak-anak ini tumbuh menjadi luar biasa. Mereka rajin membaca, belajar, bermain hingga berkesenian. Sampai akhirnya kemarin Om KW posting di akun facebooknya kalau mereka akan mengadakan pementasan Teater. Jadilah gue sangat ingin datang ke situ.

Sebagai orang yang pertama kali nonton teater gue nggak bisa menilai sih apakah teater yang dibawakan oleh anak-anak Tanah Ombak ini bagus atau tidak. Gue juga nggak punya kapasitas untuk menilai itu karena gue awam di dunia kesenian.

Tapi satu hal yang menarik buat gue adalah pesan yang disampaikan dalam cerita teater ini. Teater yang dibawakan oleh anak-anak Tanah Ombak mengangkat cerita tentang keadaan sosial saat ini dimana semua orang termasuk anak-anak tergila-gila dengan teknologi yang bernama telepon pintar.

Dalam teater ini pesannya adalah kritik terhadap orang tua bahwa sebaiknya anak-anak justru jangan dibiarkan larut dengan telepon pintar karena justru akan mematikan saraf motorik mereka, membuat mereka kekurangan empati karena jarang memperhatikan lingkungan akibat terlalu banyak waktu untuk menatap layar telepon pintar.

Anak-anak harusnya dibiarkan dalam dunia mereka, dunia bermain bersama teman-teman, dunia imajinasi dan khayalan mereka, belajar dari lingkungan. That’s it.

Dan gue sih secara pribadi sangat setuju dengan ini, karena memberikan akses internet kepada anak terlalu dini apalagi tanpa didampingi oleh orang tua itu sangat tidak bijak. Internet itu ibarat sebuah pasar yang sangat besar, jika anak dibiarkan sendirian maka ia berada dalam kondisi yang berbahaya.

Emmm.. Poin lainnya dari gue adalah memang sebaiknya anak-anak dijauhkan dari telepon pintar dan internet. Tapi, jika itu tidak bisa dilakukan maka dampingilah anak dalam mengakses telepon pintar dan internet itu. Biarkan mereka menikmati dunia anak-anak yang seharusnya.

Menertawakan Konsolidasi dan Toleransi

Saat Presiden Jokowi membagikan Kartu Indonesia Pintar di acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017 di JIExpo hari kamis lalu ada momen yang kemudian menjadi viral di internet.

Momen tersebut adalah saat seorang anak SD kelas IV yang menyebutkan ikan Konsolidasi dan Toleransi. Saat itu Presiden Jokowi menyuruh si anak tersebut menyebutkan 4 nama ikan. Dan dia menyebutkan salah satu ikan yaitu Ikan Konsolidasi dan Tolerani. Maksudnya sih ikan tongkol.

Ini jadi bahan tertawaan di internet, dimana-mana. Mulai dari youtube, twitter, instagram dan berbagai media sosial lainnya.

Lucu sih… lucu bagi sebagian orang. Tapi karena ini udah jadi viral gue pas nonton nggak ada respon sih. Ya gimana ya.

Ya, ini sih anak si polos banget, dia nggak sengaja nyebut Konsolidasi dan Toleransi. Dia secara tidak sadar menyebut itu dan kemudian jadi bahan tertawaan dimana-mana. Kebayang nggak sih beban mental yang dia pikul.

Gue setuju sih kepolosan anak-anak yang kemudian divideokan itu bukan sesuatu yang harus ditertawakan. Bayangin kalau si anak tadi udah gede, itu kan jadi aib buat dia.

Di suatu waktu gitu, dia udah agak dewasa, dia buka youtube dan menemukan video dia sendiri dan komennya semuanya menertawakan dia, ada yang bilang adek young lex, dikata-katain. Ah ngeri.

Nggak semua orang sih kuat mental untuk itu. Gue cuma berharap dia baik-baik aja setelah ini dan masa bodoh dengan semua kata orang.

Maraknya meme dan lawakan-lawakan di media sosial membuat apapun bagi semua orang bisa jadi lucu-lucuan. Ada lagi kemarin gue juga sempat marahin akun yang dia bikin joke tentang orang melahirkan.

Gila, itu gue nggak habis pikir. Orang melahirkan itu bertarung hidup dan mati loh. Mereka bertaruh nyawa tapi jadi bahan becandaan. Itu nggak banget.

Terus ada lagi yang monyet yang lagi disuruh topeng monyet, banyak tuh di instagram di dubbing dan jadi bahan lucu-lucuan. Padahal dia sedang mengalami eksploitasi loh. Dan kita ngetawain.

Banyak lagi sih di media sosial yang apa-apa jadi bahan becandaan. Dan kembali ke masalah si anak yang bilang Konsolidasi dan toleransi ini, gue nggak setuju sih kalau misal video dia jadi nyebar kemana-mana. Jadi bahan tertawaan di ruangan itu aja entah gimana perasannya dia, apalagi ditertawakan di seluruh media sosial.

kalau menurut kalian gimana? komen dong 😀

Akhirnya Bikin Podcast

Akhirnya Bikin Podcast

Setelah menjomblo bertapa lama akhirnya gue memutuskan untuk membuat podcast. Asik, gue jadi yang pertama nih di Sumatera Barat yang bikin podcast…. hahaha *ketawa setan*

Gue menamakan Podcast ini dengan Random Podcast. Kenapa? Karena akan ada banyak hal yang akan gue bahas dan nggak cuma satu tema doang. Ya, tentang apa yang terjadi di sekitar lah, yang menurut gue layak untuk diobrolkan.

Untuk durasi nanti ke depan gue belum tau bakal sepanjang apa. Untuk yang pertama sih sekitar 15 menit. Kayaknya sih nanti bakal bisa sampai satu jam.

Random Podcast nantinya akan terbit setiap rabu malam. Pengecualian untuk edisi pertama ini, karena gue nggak pengen mengundur-undur. Karena gue takut nanti feelnya jadi ilang, terus jadi males.

Gue juga mengupload Podcast ini ke youtube, tadinya sih pengen di soundcloud. Tapi ternyata di soundcloud kita dibatasi durasi. Kalau mau unlimited yah mahal juga ternyata.

Selain di youtube nanti versi MP3 akan gue sediakan di google drive. Jadi teman-teman bisa mendownloadnya dalam bentuk mp3 agar bisa didengarkan dimana pun.

Yah, sekian pengumuman tentang Random Podcast. Doakan saja gue bisa konsisten dengan mainan baru ini.

Buat yang mau dengar videonya ada di bawah ini:

Versi MP3 bisa download di sini.

Generasi Kebelet Nikah

Suatu kali gue diajakin sama Uda Rian ke Gramedia Padang. Karena udah lama nggak main ke sana ya gue ikut, tentu saja dengan meninggalkan dompet di kantor. Biar nggak khilaf. Soalnya kalau ke toko buku kadang suka nggak tahan.

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian gue waktu itu di Gramedia. Yaitu banyaknya buku-buku soal nikah. Buku soal nikah ya, bukan buku nikah. Beda loh ini :))

Buku-buku soal nikah ini bukan buku-buku yang berat gitu, bukan untuk orang dewasa dengan gaya penyampaian yang serius. Tapi buku-buku ini segmen pembacanya remaja. Ya, bahas-bahas nikah muda gitu lah. Dan itu beragam banget, mulai dari yang pop banget sampai yang islami.

Gue dalam batin…. “Ah anjir segini banget ya generasi jaman sekarang itu kebelet nikah.”

Gini, banyaknya buku-buku demikian itu berarti menunjukkan segmen di pasar ini gede loh. Artinya banyak remaja yang ingin menikah, kalau nggak, ya nggak mungkin buku dengan tema itu makin banyak gitu.

Dulu, waktu SMA sampai kuliah itu bahasan paling annoying tu pacaran. Seolah tu ya, kalau lu nggak punya pacar lu nista banget. Jadi jomblo tu aib gitu. Lo kayak semacam minoritas tau nggak sih.

Dan sekarang kayaknya ganti dengan menikah gitu. Nggak cuma di toko buku sih, tapi juga hampir di media sosial. Seolah tuh sekarang tujuan kita semata-mata di dunia ini tu cuma buat menikah.

Dan kebanyakan mereka ini adalah remaja di usia 20 tahun ke bawah yang menurut gue itu cara berpikirnya aja belum matang gitu. Hidup masih sebatas buat senang-senang, yang kalau mereka ketinggalan berfoto di tempat baru di instagram mereka langsung galau. Berasa nggak jadi anak hits.

Menurut gue ada beberapa faktor yang membuat remaja-remaja sekarang tu jadi kebelet soal nikah. Pertama itu faktor Media Sosial. Gue kan ngadmin nih di salah satu akun publik. Itu kalau di instagram kadang gue suka cek tab explore. Dan di situ aduh parah banget. Bisa gue bilang nggak ada yang tau nilai sebuah privasi.

Gue kalau ngeliat explore gitu, suka sedih gitu. Ternyata peningkatan kecepatan internet dan semakin gampangnya akses informasi dengan media sosial, nggak membuat masyarakat kita menjadi semakin pintar gitu.

Suka sedih ngeliat remaja yang nggak tau apa itu makna privasi. Ya, sih foto digembok, tapi kalau upload foto itu foto ciuman, pelukan di kamar, hal-hal yang sifatnya sangat pribadi.

Seolah-olah sekarang itu kebahagian itu harus diumbar gitu. Dan kebahagiaan yang mereka upload itu semu padahal. Upload foto ciuman, dicium sama pacarnya, akunnya digembok, tapi fotonya ditag ke semua akun-akun gede.

Kadang nggak cuma remaja sih, tapi juga pasangan-pasangan muda yang baru menikah. Lo duduk dipangku gitu ama pasangan lu, tapi itu diupload dan dikonsumsi publik. Sebegitunya kah bahagia perlu diupload dan mendapat pengakuan dari orang banyak.

Nah, balik ke faktor media sosial ini. Gue rasa banyak yang melakukan tindakan-tindakan yang gue sebutkan tadi karena faktor ini tu tren di media sosial. Itu tuh sok-sok an ngomongin Relationship Goals, yang kebanyakan sok taunya dari pada taunya.

Di satu sisi faktor lain menurut gue adalah hilangnya peran orang tua dalam memberikan informasi mengenai hubungan kepada anaknya. Memasuki usia remaja dan anak udah mulai mengenal pacaran dan lain-lain harusnya menurut gue perlu ada bimbingan dari orang tua.

Perlu pencerahan gimana sih menjalani sebuah hubungan, apa yang perlu dijaga, di tahap pacaran sebatas mana hubungan itu (ya kalau pacaran), terus mulai memperkenalkan kepada si anak apa itu pernikahan, apa maknanya bagi hidup dia, apa yang akan dia hadapi. Ya, gitu-gitu lah.

Mirisnya hal ini sebenarnya ada, tapi cuma beberapa jam. Kapan? Pada saat pengurusan administrasi pernikahan di KUA. Kedua calon pengantin mendapat kuliah nikah. Beberapa jam. Ya nggak cukuplah, karena aspek pernikahan itu luas banget dan akan dijalani di sepanjang sisa hidup.

Intinya menikah itu nggak segampang ambil foto terus upload ke instagram lah.

Gue percaya, apapun yang akan kita lakukan dalam hidup ini, apapun yang akan kita jalani kita perlu belajar dulu. Ngelakuin sesuatu harus ada ilmunya.

Nikahnya sih nggak salah, tapi kalau udah kebelet banget pengen nikah, relationship goals bla bla apalah menurut gue itu psikologisnya sih yang salah.

Lakukanlah sesuatu itu murni dari kehendak lu dan lu ngelakuin secara sadar. Bukan karena pengen seperti orang lain atau dorongan dari teman dan hal-hal yang datangnya bukan dari diri lu.

Itu aja sih pesan gue untuk kalian yang remaja-remaja di bawah 25 tahun yang kebelet kawin. Nikah tu bukan satu-satunya tujuan hidup. Fase menikah merupakan satu fase paling penting dalam hidup manusia, pastikan kalian melaluinya dengan kesiapan lahir dan batin serta ilmu yang cukup.

Terlepas dari itu tulisan ini hanya pandangan gue dan apa yang gue lihat serta rasakan di lingkungan sekitar. Ada yang ngerasain hal yang sama nggak sih?

Mau Bikin Apa di 2017?

Emmm… ini postingan kedua di tahun 2017. Dan… pertama gue mau ngucapin terima kasih dulu buat yang kemarin tanggal 13 udah memberikan doa, ucapan di hari ulang tahun gue. Terutama buat yang udah ngasih kejutan. Nggak nyangka bakal ada yang nganterin kue.. haha.

Di postingan kedua ini gue nggak tau sih sebenarnya mau nulis apa. Ini sudah setengah 2 dini hari dan gue lagi mikir aja sendirian di UP Coworking Space kayak orang bego. Karena nggak tau mau ngapain jadinya gue milih untuk menulis blog. Ya, itung-itung nambah postingan dan sesuai misi awal blog ini sebagai jurnal pribadi gue.

Pagi ini gue cuma mau cerita lanjutan soal kegelisahan-kegelisahan gue di postingan sebelumnya. Dan makin hari tu makin kepikiran. Apalagi kegiatan gue yang setiap hari berhubungan dengan media sosial mau tidak mau kegelisahan gue tentang apa yang terjadi di media sosial itu selalu jadi buah pikiran.

Gue pengen sih bikin sesuatu…. sesuatu yang kayak… apa ya… bisa mencerahkan lah gitu. Ada beberapa hal yang pengen gue bikin, opsinya itu Podcast terus Video Youtube dengan format ngobrol ringan gitu.

Tapi ada sesuatu dalam diri gue yang… Dibilang males sih nggak… cuman kayak masih takut atau ragu gitu ngelakuinnya. Gue pengen konten di situ itu mencerahkan, tapi gue terjebak jangan-jangan gue nanti malah menggurui gitu. Di satu sisi gue pengen… pengen banget.

Yaaah… begitulah. Vlog atau podcast? Nggak taulah.

Kalau podcast, kebayang aja kan nanti gue ngoceh sendiri gitu setengah jam, satu jam. Ada gitu yang mau denger. Kalau video di youtube gue udah kebayang sih dan gue nggak akan sendirian. Gue bakal bahas tema-teman tertentu dengan orang-orang yang memang praktisi atau juga yang ahli di bidang itu.

Tujuannya, selain buat menambah wawasan gue sendiri juga jadi semacam gue bisa sedikit menyalurkan apa yang ada di pikiran gue selama ini. Apapun itu.

Intinya gimana nanti kontennya ini bisa memberikan nilai lebih kepada mereka yang nonton ataupun yang dengar. Mereka yang denger tu dapat sesuatu gitu, nggak cuma terhibur gitu.

Yaah.. itulah pokoknya. Gue nggak tau lagi mau nulis apa.

See you dan selamat menikmati pagi buat yang belum tidur.